Archive | Adab RSS feed for this section

Buku Tajwid Metode Ketukan

29 Mar

Melihat minat pembaca yang cukup tinggi, penulis berinisiatif membukukan isi materi dalam blog ini. Alhamdulillah, telah tersusun buku dengan judul “PANDUAN  TAJWID APLIKATIF, Kajian Dengan Pendekatan Teknik Ketukan”. Buku ini adalah buku tajwid yang lengkap, bersifat aplikatif dengan menggunakan teknik ketukan dan contoh yang banyak, pembahasan gamblang sehingga sangat mudah difahami. Insya Allah sangat bermanfaat bagi pembacanya.

sampul tajwid

DAFTAR ISI

PRAKATA

8

1. Tentang Buku ini

8

2. Kiat sukses mengikuti program tahsin

8

a.  Ikhlash karena Alloh

9

b.  Do’a yang banyak kepada Alloh

9

c. Tsabat (teguh tidak mudah putus asa)

9

Bab I MUQODDIMAH

13

Khobar Nubuwwah

14

Adab Tilawah Alqur’an

18

Pengertian Ilmu Tajwid

19

Hukum Belajar Tajwid

20

1. Fardlu ‘Ain

20

2. Fardlu Kifayah

22

Tujuan Belajar Tajwid

22

1. Lahnu Al-Jaliy

22

2. Lahnu Al-Khofiy

23

Isti’adzah

23

Basmallah

24

Keutamaan Isti’adzah

25

Cara Menyambung Isti’adzah, Basmallah dan Surat

27

Cara Menyambung dua surat

28

Bab II MENGENAL KETUKAN BACAAN ALQUR’AN

30

Pengertian Kharokat

31

Kunci Dasar Kharokat/Ketukan

32

Ilustrasi Ketukan

34

Kaidah Umum Ketukan Bacaan Alqur’an

35

1 Huruf Mati (sukun) Tetap Mempunyai Hak 1 Ketukan

37

LATIHAN

38

Hamzah Washol ($#) dan Huruf Mad , Hilang Ketukannya Bila Diikuti Huruf Mati/Sukun

39

Huruf Bertasydid  Mempunyai Hak 2 Ketukan

40

LATIHAN

41

Bab III MAKHORIJU AL-HURUF

43

Peta Makhroj

44

Makhoriju Al-Huruf

45

Sifat-Sifat Huruf

46

Latihan Makhroj dan Sifat Huruf

52

Bab IV Ghunnah

88

Ghunnah

89

Bab V SIFAT BUNYI “N”

91

Peta Sifat Bunyi “N”

92

Idh-har Khalqiy

93

LATIHAN

94

Idghom Bilaghunnah

95

LATIHAN

96

Iqlab

97

LATIHAN

98

Idghom Bighunnah

98

LATIHAN

100

Ikhfa’ Khaqiqiy

101

LATIHAN

102

Bab VI SIFAT BUNYI “M”

109

Peta Sifat Bunyi  “M”

110

LATIHAN

111

Bab VII M  A  D

112

Pengertian Mad

113

Peta Mad

114

Mad Thobi’i

115

Mad Badal

116

Mad Tamkin

118

Mad ‘Iwadl

119

Mad Shilah Qoshiroh

120

Mad Thobi’i Kharfiy

121

Mad Wajib Muttashil

122

Mad Jaiz Munfashil

123

Mad Shilah Thowilah

124

Mad ‘Aridl Lissukun

125

Mad Layyin/Lin

126

Mad Farqi

127

Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi

128

Mad Lazim Mutsaqol Kalimi

129

Mad Lazim Mukhoffaf Kharfiy

130

Mad Lazim Mutsaqol Kharfiy

131

Bab VIII TAFKHIM  DAN  TARQIQ

132

Pengertian Tafkhim/Tarqiq

133

1. Huruf Isti’la  dan bunyi ikhfa’-nya

133

2. Lafadh Jalalah

134

3. Huruf RO

135

Bab IX I D G H O M

141

Pengertian Idghom dan Pembagiannya

141

1. Idghom Mutamatsilain

142

2. Idghom Mutajanisain

142

3. Idghom Mutaqoribain

143

Bab X HAMZAH QOTHO’  dan HAMZAH WASHOL

144

Hamzah Qotho’  dan Hamzah Washol

145

Hamzah Qotho’

145

Hamzah Washol

146

1. Hamzah washol  di awal bacaan dibaca berbunyi “A”

147

2. Hamzah washol  di awal bacaan dibaca berbunyi “I”

148

3. Hamzah washol  di awal bacaan dibaca berbunyi “U”

149

4. Hamzah washol  tidak dibaca namun muncul bunyi “NI” karena  didahului tanda tanwin

150

5. Perkecualian

151

Bab XI W A Q O F

152

Pengertian Waqof

154

Pembagian Waqof

155

1. Waqof Ikhtibari

155

2. Waqof Intidhori

155

3. Waqof Idlthirori

155

4. Waqof Ikhtiyari

155

Cara-Cara Berwaqof

159

Berwaqof  Pada Huruf  Berbaris Fatkhah, Kasroh, Dlommah dan Sukun   (a)

159

Berwaqof  Pada Huruf  Berbaris Fatkhah, Kasroh, Dlommah dan Sukun   (b – qolqolah)

160

Berwaqof  Pada Huruf  Berbaris Fatkhah, Kasroh, Dlommah dan Sukun   (c – hams)

160

Waqof Pada Huruf Terakhir Berbaris Tanwin Dlommah

161

Waqof Pada Huruf Terakhir Berbaris Tanwin Kasroh

161

Waqof Pada Huruf Terakhir Berbaris Tanwin Fatkhah

162

Waqof  Pada Huruf Berbaris Tanwin Fatkhahnya Huruf Ta’ Marbuthoh

162

Waqof Pada Huruf  ber-Tasydid  (a)

163

Waqof Pada Huruf  ber-Tasydid (b – Qolqolah)

163

Waqof  Pada Huruf  ber-Tasydid (c – Ghunnah)

163

Waqof  Pada Bacaan Dengung

164

Waqof  Pada Huruf  Mati + Huruf di-Sukun-kan

165

Waqof  Pada Huruf  Mati + Huruf di-Sukun-kan (Qolqolah)

166

Waqof  Pada Huruf  Mati + Huruf di-Sukun-kan (Hams)

167

Waqof  Pada Mad  (2 Ketukan)

167

Waqof  Pada Mad  (4 Ketukan)

168

Waqof  Pada Mad  (6 Ketukan)

169

Tanda-tanda Waqof

169

Bab XII GHORIBUN FILQUR’AN

170

Ghoribun fil Qur’an

173

1. Sajdah  pada ayat yang bertanda kubah  ) 173
2. Saktah 175
3. Isymam 176
4. Imalah 177
5. Tashiil 177
6. Naql 177
7. Nun Wiqoyah 178
8. Shifrul Mustadir 179
9. Shifrul Mustathil Qoim 179
1o. Perhatian  (sering terjadi kesalahan bacaan) 180
Bab XIII MENGENAL MUSHKHAF ROSMU AL-UTSMANI 184
Alqur’an Rosmu Al-Ustmani 185
Bentuk Fisik Alqur’an Rosmu Al-Utsmani 186
Perbandingan Alqur’an Cetakan Indonesia Dengan Alqur’an Rosmu Al-Utsmani Cetakan Timur Tengah 187
1. Perbedaan Khot (bentuk tulisan) 187
2. Perbedaan Penulisan Simbol 194
Bab XIIv KHOTIMAH 206
Khotimah 207
Indikasi Tahsin Tilawah Yang Sukses 207
Urgensi Hifdhul  Qur’an 209
Untaian Harapan Ahlul Qur’an 219
DAFTAR PUSTAKA 223
P E N U L I S 224
Advertisements

Adab Ahlul Qur’an

28 Sep

Saudaraku… Para penghafal Alqur’an yang dimuliakan Allah SWT….

Seseorang yang banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an, sudah seharusnya memiliki sifat dan akhlaq yang mulia. Diantara akhlaq tersebut antara lain:

  1. Istiqamah dalam tilawah satu juz setiap hari.
  2. Menghindarkan diri dari sifat tamak dan riya’ dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
  3. Mampu menjadi teladan yang baik dalam ucapan dan perbuatan.
  4. Membiasakan diri memberi nasehat baik kepada saudaranya agar lebih dekat dengan Al-Qur’an.
  5. Membantu proses percepatan dakwah bil Qur’an, baik dengan mengadakan daurahAl-Qur’an, kajian ‘Ulumul Qur’an, Tasmi’ Al-Qur’an atau mabit di tengah-tengah masyarakat.
  6. Membiasakan shalat malam.
  7. Membiasakan shalat tarawih dengan bacaan 1 juz.
  8. Menciptakan lingkungan keluarga sebagai majlis halaqoh Qur’an.

Itulah di antara beberapa adab tilawah dan adab yang berkaitan dengan para ahlul Qur’an yang seyogyanya harus kita lestarikan. Dengan demikian kesucian dan keagungan Al-Qur’an dapat terpelihara dengan sebaik-baiknya dan sukseslah program Dakwah bil Qur’an, Amin.

Saudaraku….

Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah ilmu dan amal kepada kita.

Adab Murid dan Guru Alqur’an

28 Sep

Para Pembaca, Saudaraku yang dirahmati Allah SWT….

Sebelumnya, anda harus dapat membedakan belajar Tahsin / Tahfizh Al-Qur’an dengan mempelajari ilmu-ilmu lain seperti matematika, komputer, bahasa Inggris dan sebagainya. Mempelajari Al-Qur’an adalah mempelajari kalam-kalam Allah, dan kalam Allah lebih mulia dari apapun di muka bumi ini. Sehingga sikap anda ketika belajar Al-Qur’an harus anda bedakan ketika belajar ilmu-ilmu yang lain, karena sesungguhnya anda tidak akan mendapatkan berkah dari ilmu Al-Qur’an yang anda pelajari jika adab-adabnya tidak anda perhatikan.

Marilah kita pelajari adab-adab dalam bertalaqqi/belajar Al-Qur’an, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi dalam At Tibyan fi Hamalatil Qur’an. Dia antara adab-adab tersebut adalah:

1. Dalam kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an, baik guru maupun murid harus memiliki keikhlasan yang penuh, hanya mengharapkan keridhaan Allah semata. Allah berfirman:

“Dan tiadalah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah, ikhlash karenanya dalam menjalankan agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah bersabda:

“Semata-mata perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abbas berkata:

“Semata-mata seorang itu akan terjaga sesuai dengan ukuran niatnya.”

Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

“Meninggalkan suatu perbuatan karena manusia adalah perbuatan riya’. Melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlash adalah tatkala Allah menjaga anda dari dua penyakit di atas.”

2. Guru dan murid tidak boleh menjadikan talaqqi Al-Qur’an sebagai sarana untuk mengharapkan atau mendambakan dunia, sehingga jika kegiatan tersebut tidak menjanjikan materi,  ia enggan melakukannya. Allah berfirman:

“Dan baarang siapa yang menginginkan ladang dunia kami akan memberinya. Dan tidak ada baginya bagian di akhirat…” (QS. Al-Isra’: 18)

3. Seorang guru harus amanah dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada muridnya, jangan sampai ia membiarkan muridnya melakukan kesalahan. Karena dikhawatirkan suatu saat ia akan mengajarkan muridnya dalam keadaan salah.

4. Seorang guru tidak boleh mendambakan semua orang belajar kepadanya dan tidak belajar kepada guru yang lain. Hindarilah rasa benci dan kesal jika mendapatkan murid yang belajar kepada guru yang lain. Penyakit ini banyak menimpa para guru yang jahil. Ini suatu bukti bahwa niat mengajarnya salah dan tidak karena Allah subhanahu wa ta’ala. Seharusnya ia mengatakan,  “Aku mengajar dengan tujuan ibadah, dan ini telah aku dapatkan. Jika ada muridku pindah belajar kepada guru yang lain, maka ia akan mendapatkan tambahan ilmu. Semoga ilmunya menjadi ilmu yang bermanfaat.”

Inilah teladan dari Imam Syafi’i yang pernah berkata,

“Aku ingin orang yang telah mempelajari ilmu (yang telah aku ajarkan) ini tidak menganggap ilmu tersebut didapat dariku, walaupun hanya satu huruf.”

5. Guru dan murid harus berakhlaq mulia, sabar tawadhu’, tidak banyak bercanda dan berisik, tidak hasud dan ‘ujub (berbangga diri), serta banyak mengamalkan amalan sunnah, berdzikir, bertasbih, berdo’a, dan muraqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah).

6. Seorang guru harus bersikap lemah lembut kepada muridnya, menyambutnya dan berbuat baik kepadanya. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:

“Sesungguhnya masyarakat itu adalah pengikut kalian  dan sesungguhnya terdapat orang-orang yang akan mendatangi kalian dari pelosok negeri untuk mendalami ilmu agama. Apabila mereka datang kepada kalian perlakukanlah dengan baik.”  (H.R. Tirmidzi)

7. Seorang guru harus banyak memberi nasehat dan motivasi kepada muridnya. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:

“Agama itu nasehat.” “Bagi siapa ya Rasul?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitabnya, Rasulnya, para imam muslim dan kaum muslimin pada umumnya.”   (H.R. Muslim)

Yang dimaksud dengan nasehat bagi Allah adalah meyakini ke-Maha Tunggal-an Allah dan ikhlas dalam beribadah kepadanya. Nasehat bagi kitabnya adalah dengan mengamalkan isinya. Nasehat bagi Rasul-Nya yakni mengikuti perintah dan menjauhi larangannya. Nasehat bagi imam muslim dan kaum muslimin pada umumnya yaitu dengan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar.

8. Seorang guru tidak boleh merasa besar di hadapan muridnya, melainkan harus lemah lembut, hormat dan tidak merendahkan mereka. Rasulullah bersabda:

“Bersikap lemah lembut kepada orang yang kamu ajari dan orang yang sedang belajar darinya.” (HR. Ibnu Suni)

9. Seorang murid harus hormat kepada guru, betapapun ia melihat kekurangan gurunya. Ali bin Abi Thalib berkata:

“Aku bagaikan hamba sahaya bagi orang telah mengajariku walaupun satu huruf.”

Jangan pernah menceritakan ketidakpuasan terhadap gurunga kepada orang lain. Hal tersebut adalah ghibah, apalagi dilakukan terhadap gurunya. Sungguh, perbuatan ini menjadikan ilmu tidak bermanfaat. Rasulullah bersabda:

“Ya Allah, aku berlindung diri kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

10. Seorang murid harus sabr menghadapi sikap keras gurunya, karena boleh jadi ketika marah tersebut gurunya sedang lelah atau memikirkan suatu masalah. Berpikirlah positif, bahwa seorang guru tidak mungkin benci kepada muridnya. Jadi, murid harus siap seakan-akan hina di depan gurunya. Ibnu Abbas berkata:

“Dulu aku hina ketika mencari (menjadi murid), kini aku mulia setelah dicari (menjadi guru).”

Seorang penyair berkata:

“Seseorang yang tidak pernah merasakan kehinaan sesaat (menuntut ilmu) akan hina sepanjang masa.”

 

Saudaraku…

Mudah-mudahan kita diberikan-Nya hidayah ilmu dan amal. Mari beriman sesaat, sempatkan waktu untuk belajar Alqur’an.

Maroji:

Muzzammil, Ahmad, ‘Ulumul Qur’an Program Tahsin-Tahfizh, Ma’had Alqur’an Nurul Hikmah, Tangsel, 2008

Ra’uf, ‘Abdul Aziz Abdul, Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah, PT Syamil Cipta Media, Bandung, 2004

Adab Membaca Alqur’an

28 Sep

Para Pembaca, Saudaraku yang dimuliakan Allah SWI….

Apakah ‘adab’ itu ? Adab adalah aturan, tata cara dalam melakukan suatu aktifitas kebaikan. Dalam berinteraksi dengan Alqur’an, memerlukan  adab tersendiri. Adab itu diatur dengan sangat baik sebagai penghormatan dan pengagungan terhadap Al-Qur’an, selain dalam rangka meraih manfaatnya yang sempurna.

Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin menguraikan dengan sejelas-jelasnya bagaimana tata cara membaca Al-Qur’an. Beliau membagi adab tilawah menjadi dua, yaitu adab mengenai lahir dan mengenai batin (berhubungan dengan hati). Membesarkan kalam Allah bukan saja dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisannya. Disebutkan dalam satu riwayat, Ikrimah bin Abu Jahal sangat gundah hatinya tatkala melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an berserakan dan disia-siakan. Ia akan memungutnya selembar demi selembar seraya berkata, “Ini adalah kalam Rabb-ku, ini adalah kalam Rabb-ku, membesarkan kalam Allah berarti membesarkan Allah.”  (Ihya’ /I:332)

Mengenai adab tilawah telah banyak disebutkan oleh para Ulama’. Bahkan Imam Nawawi menulis sebuah kitab khusus yang menerangkan tatakrama memperlakukan Al-Qur’an, yaitu kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an (Penjelasan tentang adab seorang Ahlul Qur’an)


Adab Tilawah/Membaca Alqur’an

Saudaraku… berikut ini adalah tata cara, aturan yang telah ditentukan, ketika ingin meraih fadhilah besar ketika membaca Alqur’an:

  1. Bersiwak atau membersihkan mulut sebelum tilawah.
  2. Berwudhu sebelum tilawah, karena tilawah tergolong dzikir yang paling utama, meskipun boleh membacanya tanpa berwudhu.
  3. Membaca di tempat yang bersih dan berpakaian yang sopan. Adapun tempat yang paling utama adalah masjid. Diperbolehkan membaca Al-Qur’an di atas kendaraan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah melakukannya.
  4. Membaca dengan duduk menghadap ke kiblat dan khusyu’, karena membaca Al-Qur’an sama dengan munajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Diperbolehkan membaca sambil berdiri atau berbaring. (QS. Ali’ Imran)
  5. Membaca Al-Qur’an diawali dengan isti’adzah (QS. An-Nahl: 98) dan dilanjutkan dengan basmalah tiap awal surat, kecuali pada awal surat At-Taubah.
  6. Membaca dengan tartil, yaitu membaca dengan lambat, tidak terburu-buru dan bertajwid, sesuai dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala di dalam QS. Al-Muzzammil: 4.
  7. Janganlah memutus tilawah seketika hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya tilawah diteruskan sampai akhir ayat. Jika hendak melanjutkan tilawah disunnahkan mengulangi bacaan isti’adzah. Dilarang tertawa dan bermain saat tilawah, sebab perbuatan tersebut dapat mengurangi kemuliaan dan kesucian Al-Qur’an.
  8. Bagi yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al-Qur’an, seyogyanya membaca dengan penuh perhatian dan meresapi kandungannya (QS. Shad:29). Misalnya, ketika sampai pada ayat tasbih maka ia bertasbih dan bertahmid, bila sampai pada doa dan stighfar, ia berdo’a dan beristighfar, bila sampai pada ayat ‘adzab, ia meminta perlindungan kepada Allah.
  9. Membaca dengan irama yang bagus namun tanpa dipaksakan, sebab irama yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an dan membantu meresapinya.
  10. Memanjatkan do’a sesudah tilawah, juga ketika telah menyelesaikan tilawah 30 juz.

Saudaraku…

Mudah-mudahan kita diberikan-Nya hidayah ilmu dan amal. Mari beriman sesaat, sempatkan waktu untuk belajar Alqur’an.

Maroji:

Muzzammil, Ahmad, ‘Ulumul Qur’an Program Tahsin-Tahfizh, Ma’had Alqur’an Nurul Hikmah, Tangsel, 2008

Ra’uf, ‘Abdul Aziz Abdul, Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah, PT Syamil Cipta Media, Bandung, 2004