Archive | MAD RSS feed for this section

Cara Membaca Mad Wajib Muttashiil

20 Oct

Saudaraku….

Apabila diasumsikan panjang Mad Wajib Muttashiil adalah 5 ketukan, maka cara membaca Mad Wajib Muttashiil adalah sebagai berikut:

 

Saudaraku…

Panjang Mad Wajib Muttashil pada kata “SAWA”  adalah 5 ketukan, yaitu dari  ketukan ke-2 hingga ketukan ke-6.

Karena itu, praktek pembacaan Mad Wajib Muttashiil adalah:

Ketukan ke-2 berbunyi “WA”.  Pertahankan bunyi “WA” hingga ketukan ke-6.  Yang terdengar panjang adalah suara “A”-nya. Kira-kira, kalau satu khuruf  “A” mewakili satu ketukan, bunyi lengkap Mad Wajib Muttashiil adalah “SaWaaaaaUn”. Bunyi vokal “A” dari ketukan ke-2 hingga ketukan ke-6 TIDAK BOLEH TERPUTUS. Bunyi “A” akan menghilang berbarengan dengan jatuhnya bunyi “UN” pada ketukan ke-7.

Cara Membaca Mad Jaiz Munfashiil

20 Oct

Saudaraku….

Apabila diasumsikan panjang Mad Jaiz Munfashiil adalah 5 ketukan, maka cara membaca Mad Jaiz Munfashiil adalah sebagai berikut:

Saudaraku…

Panjang bacaan Mad Jaiz Munfashiil pada kata “IDZA” adalah 5 ketukan, yaitu dari  ketukan ke-3 hingga ketukan ke-7.

Karena itu, praktek pembacaan Mad Jaiz Munfashiil adalah:

Ketukan ke-3 berbunyi “DZA”.  Pertahankan bunyi “DZA” hingga ketukan ke-7.  Yang terdengar panjang adalah suara “A”-nya. Kira-kira, kalau satu khuruf  “A” mewakili satu ketukan, bunyi lengkap Mad Jaiz Munfashiil adalah “WaIDzaaaaa-Adh”. Bunyi vokal “A” dari ketukan ke-3 hingga ketukan ke-7 TIDAK BOLEH TERPUTUS. Bunyi “A” akan menghilang berbarengan dengan jatuhnya bunyi “ADH” pada ketukan ke- 8.

Perbedaan Mad Wajib Muttashiil dan Mad Jaiz Munfashiil

20 Oct

Saudaraku….

Ada kesamaan rumus antara Mad Wajib Muttashiil dan Mad Jaiz Munfashiil. Keduanya timbul dari Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’. Bedanya hanya pada letak hamzah-nya saja. Pada Mad Wajib Muttashiil, Hamzah Qotho’ terletak dalam satu kata. Sedangkan pada Mad Jaiz Munfashiil, Hamzah Qotho’ terletak pada kata yang berbeda.

Permasalahannya adalah : Bagaimana membedakan letak hamzah pada 1 kata atau tidak ?

Bagi yang pernah mempelajari bahasa arab, hal ini bukan masalah. Bagi yang tidak mengerti bahasa arab, bagaimana ?

Banyak yang terjebak, ketika dalam ujian tahsin harus menentukan mana yang bernama Mad Wajib Muttashiil dan mana yang Mad Jaiz Munfashiil ?  Tertukarnya jawaban dilatarbelakangi ketidaktahuan tentang bahasa arab.

Jangan khawatir ! Karena masih ada satu cara menentukan kedua jenis mad ini, yaitu dengan melihat BENTUK PENULISAN HAMZAH-nya.

Coba anda lihat, penulisan bentuk hamzah qotho’ pada Mad Wajib Muttashiil berikut:

Kemudian… bandingkan dengan penulisan bentuk hamzah qotho’ pada Mad Jaiz Munfashiil berikut:

 

Hmmm….. Sekarang anda tahu bedanya bukan  ?  Ternyata penulisan hamzah di depan (sebagai tanda mad jaiz) dan di belakang (sebagai tanda mad wajib) sangat berbeda.

Mad Jaiz Munfashiil

20 Oct

Saudaraku….

Apakah Mad Jaiz Munfashiil itu ?

Mad Jaiz Munfashiil terjadi apabila Mad Thobi’i langsung diikuti oleh khuruf HAMZAH QOTHO’, dimana letak keduanya terpisah, tidak dalam satu kata. Jadi Mad Thobi’i-nya terletak pada akhir sebuah kata, kemudian Hamzah Qotho’-nya terletak di awal kata berikutnya.

Durasi pengucapan Mad Jaiz Munfashiil adalah 4 atau 5 ketukan.

Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan  4 atau 5 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Jaiz Munfashiil dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua  bacaan yang berformula mad ini.

Di antara contoh Mad Jaiz Munfashiil adalah  sebagai berikut:

 

Saudaraku…

Pada contoh di atas, ada 2 contoh yang masing-masing memuat Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’ (dalam 2 kata). Itulah contoh Mad Jaiz Munfashiil.

 

SARAN:

Agar bacaan terdengar bagus, sebaiknya, panjang Mad Jaiz Munfashiil disamakan dengan panjang Mad Wajib Muttahiil, sehingga menjadi singkron. Bila Mad Wajib Muttashiil  dibaca dengan durasi 5 ketukan, maka Mad Jaiz Munfashiil sebaiknya juga 5 ketukan.

Mad Wajib Muttashiil

20 Oct

Saudaraku….

Apakah Mad Wajib Muttashiil itu ?

Mad Wajib Muttashiil terjadi apabila Mad Thobi’i langsung diikuti oleh khuruf HAMZAH QOTHO’, dimana letak keduanya masih dalam satu kata.

Durasi pengucapan Mad Wajib Muttahiil adalah 4 atau 5 ketukan.

Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan  4 atau 5 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Wajib Muttahiil dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua  bacaan yang berformula mad ini.

Di antara contoh Mad Wajib Muttashiil adalah  sebagai berikut:

 

Saudaraku…

Pada contoh di atas, ada 4 kotak tulisan berwarna merah. Itulah contoh empat buah kata yang masing-masing memuat Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’ (dalam 1 kata). Itulah contoh Mad Wajib Muttashiil.

Cara Membaca Mad Lin

20 Oct

Saudaraku….

Dengan asumsi panjang Mad Lin adalah 4 ketukan, maka cara membaca Mad Lin adalah sebagai berikut:

 

Saudaraku…

Panjang ketukan dari bunyi “ROISY” adalah 4 ketukan, yaitu dari bunyi “RO” pada ketukan ke-8 hingga bunyi “..SY” pada ketukan ke-11.

Karena itu, praktek pembacaan Mad Lin adalah:

Ketukan ke-8 berbunyi “RO”. Bunyi “I” dimulai pada ketukan ke-9. Pertahankan bunyi “I” hingga ketukan ke-11, sehingga bunyi “ROI” akan bersambung dengan bunyi “SY”.  Jadi yang terdengar panjang adalah suara “I”-nya. Kira-kira, kalau satu khuruf  “I” mewakili satu ketukan, bunyi lengkap contoh di atas adalah “LiIiLaaFiQuRoiiisy”. Bunyi “..SY” pada ketukan ke-11 akan menghilang berbarengan dengan jatuhnya ketukan ke-12.

PERHATIAN:

LIN adalah suara miring. Pada contoh di atas,  “I” pada bunyi “ROI” diucapkan secara halus, tersambung dengan bunyi “O” sehingga menjadi “OI”. Bunyi “I” tidak diucapkan sebagai konsonan yang mandiri, sehingga membaca secara terpotong “RO-IIISY” adalah SALAH. Pembacaan yang benar, adalah menggabungkan “OI” menjadi satu, yaitu bunyi “I” terdengan halus.

 

SARAN:

Agar bacaan terdengar bagus, sebaiknya, panjang Mad Lin disamakan dengan panjang Mad ‘Aridl Lissukuun, sehingga menjadi singkron. Bila Mad ‘Aridl Lissukuun dibaca dengan durasi 4 ketukan, maka Mad Lin sebaiknya juga 4 ketukan.

 

Mudah-mudahan bermanfaat.

Cara Membaca Mad ‘Aridl Lissukuun

20 Oct

Saudaraku….

Dengan asumsi panjang Mad ‘Aridl Lissukuun adalah 4 ketukan, maka cara membaca Mad “Aridl Lissukuun adalah sebagai berikut:

 

Saudaraku…

Panjang ketukan dari bunyi “NIN” adalah 4 ketukan, yaitu dari bunyi “NI” pada ketukan ke-7 hingga bunyi “..N” pada ketukan ke-10.

Karena itu, praktek pembacaan Mad ‘Aridl Lissukuun adalah:

Ketukan ke-7 berbunyi “NI”. Pertahankan bunyi “NI” hingga ketukan ke-10, sehingga bunyi “NI” akan bersambung dengan bunyi “N”.  Jadi yang terdengar panjang adalah suara “I”-nya. Kira-kira, kalau satu khuruf  “I” mewakili satu ketukan, bunyi lengkap contoh di atas adalah “WaThuuRiSiiNiiiin”. Bunyi “..N” pada ketukan ke-10 akan menghilang berbarengan dengan jatuhnya ketukan ke-11.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

Mad Lin

20 Oct

Saudaraku…

Mad Lin (atau juga disebut Mad Layyin) adalah mad yang terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof/berhenti membaca) dengan formula : Bacaan miring + satu khuruf (yang sebenarnya hidup, tapi…) dimatikan, karena ada di posisi waqof.

Yang disebut bacaan miring (lin) adalah bacaan “AI” atau bacaan “AU”. Bacaan “AI” terjadi karena khuruf berbaris fatkhah diikuti oleh khuruf  YA SUKUN. Bacaan “AU” terjadi karena khuruf berbaris fatkhah diikuti oleh khuruf  WAWU SUKUN.

Jadi Mad Lin terjadi pada bacaan AU + satu khuruf yang dimatikan, atau bacaan AI + satu khuruf yang dimatikan.

Mad Lin hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof) yang berformula tersebut di atas. Mad Lin tidak mungkin terjadi di awal/tengah bacaan.

Durasi yang diperkenankan untuk Mad Lin adalah 2, atau 4 atau 6 ketukan.

Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 2, 4 atau 6 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Lin dengan 4 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua akhir bacaan yang berformula mad ini.

Di antara contoh Mad Lin adalah seperti tersebut pada Surat Quroisy sebagaimana berikut:

 

Saudaraku…

Deret khuruf yang ditampilkan dengan warna merah, itulah deret khuruf yang menunjukkan formasi Mad Lin. Tentunya dengan syarat, bahwa pembaca akan mengakhiri bacaan pada setiap akhir ayat. Bila Surat Quroisy dibaca total hanya dengan satu nafas (tidak berhenti kecuali di akhir surat) maka Mad Lin hanya terjadi pada akhir ayat terakhir.

Untuk diingat, Mad Lin hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof).

Mad ‘Aridl Lissukuun

20 Oct

Saudaraku…

Mad ‘Aridl Lissukuun adalah mad yang diikuti oleh khuruf (yang sebenarnya hidup, tapi…) dimatikan, karena ada di akhir bacaan (posisi waqof).

Boleh jadi, akhir bacaan itu pas terjadi di akhir ayat (ditandai nomor ayat). Atau bisa juga terjadi di tengah ayat, yang karena terbatasnya nafas, bacaan harus terhenti sebelum akhir ayat. Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof) yang berformula tersebut di atas. Mad ‘Aridl Lissukun tidak mungkin terjadi di awal/tengah bacaan.

Durasi yang diperkenankan untuk Mad ‘Aridl Lissukun adalah 2, atau 4 atau 6 ketukan.

Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 2, 4 atau 6 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad ‘Aridl Lissukuun dengan 4 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua akhir bacaan yang berformula mad ini.

Untuk memperjelas penjelasan tentang Mad ‘Aridl Lissukun, mari kita simak contoh berikut:

 

Saudaraku…

Deret khuruf yang ditampilkan dengan warna merah, itulah deret khuruf yang menunjukkan formasi Mad ‘Aridl Lissukun. Tentunya dengan syarat, bahwa pembaca akan mengakhiri bacaan pada setiap akhir ayat. Bila Surat Attiin  dibaca total hanya dengan satu nafas (tidak berhenti kecuali di akhir surat) maka Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir ayat terakhir.

Untuk diingat, Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof).

Cara Membaca Mad Tamkin

18 Oct

Saudaraku….
Sebelum kita memulai belajar cara membaca Mad Tamkin, kita reviuw dulu aturan ketukan dalam membaca Alqur’an:

* Ketukan harus rata, tetap dan teratur
* Setiap khuruf mendapatkan hak 1 ketukan
* Spasi tidak diketuk
* Khuruf Sukun (mati) tetap mendapatkan hak 1 ketukan
* Khuruf ber-tasydid mendapatkan hak 2 ketukan

Nah… mari kita simak dan praktekkan bersama, cara pembacaan Mad Tamkin, sebagaimana ilustrasi berikut:

 

Saudaraku…

Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 9 khuruf.  Namun, karena Mad Tamkin dihitung 2 ketukan (Khuruf ber-tasydid mendapatkan hak 2 ketukan), maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10  ketukan yang sama, rata dan teratur.

Saudaraku…

Pada contoh di atas, bacaan Mad Tamkin terjadi pada ketukan ke-7 dan 8. Panduan cara membaca Mad Tamkin adalah sebagai berikut:

Ketukan ke-7 berbunyi “YI”. Pertahankan bunyi “YI” hingga ketukan ke-8. Bunyi “YI” berakhir/hilang pada ketukan ke-9 saat pindah ke bunyi “TUM”.

Saudaraku…

Hak ketukan Mad Tamkin hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan menyalahi ‘urf quro’.  Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’, namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca Mad Tamkin hanya 2 ketukan saja.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.